
Nama K.H. Abdullah Syafi’ie bagi kaum Muslim, khususnya warga Jakarta, tentunya sudah tidak asing lagi. Ulama karismatik ini dikenal dengan kedalaman dan keluasan ilmunya. Lebih dari itu, Abdullah Syafi’ie juga terkenal dengan ketegasan, kegigihan, dan semangat pantang mundur dalam memperjuangkan kebenaran Islam.
Ulama terkenal Prof KH Ali Yafie pernah mengatakan bahwa “K.H. Abdullah Syafi’ie adalah tokoh pemberani, ikhlas, dan tak jemu dalam berdakwah. Beliau sangat tegas dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.”
Kasus yang sangat monumental terjadi dalam penolakan RUU Perkawinan tahun 1974,”. RUU itu ditolak keras oleh umat Islam karena isinya yang sangat sekular. Puncak protes umat Islam, Akhirnya, massa Islam berhasil menduduki ruang sidang paripurna dan menggagalkan pengesahan RUU sekular tersebut.
Menurut KH Ali Yafie, pada saat itu gedung DPR diduduki siswa dan mahasiswa yang mayoritas pelajar dan mahasiswa Asy-Syafi’iyah. Kabarnya, salah satu aktor di belakang gerakan siswa dan mahasiswa ini adalah KH Abdullah Syafi’ie yang terus memberi semangat melalui siaran radio yang disiarkan setiap subuh. Bahkan Menteri Agama saat itu, Mukti Ali terpaksa dibawa keluar DPR lewat pintu belakang karena gedung DPR dikepung para demonstran. (Lihat, KH Abdullah Syafi’ie di Mata Para Tokoh, Ulama, dan Cendekiawan Muslim, hlm: 36)
Kecintaan Kyai Abdullah Syafi’ie terhadap ilmu dan pendidikan juga luar biasa. Saat usia 18 tahun ia meminta ayahnya, H. Syafi’ie, untuk menjual sapi-sapi miliknya yang kandangnya dibuat di samping rumah. Ia ingin menjadikan tempat tersebut untuk berkumpul dan mendalami serta mendiskusikan ilmu agama dengan teman-temannya. Ayahnya meluluskan. Itulah madrasah pertama yang didirikan KH Abdullah Syafi’ie pada tahun 1828.
Tahun 1933 KH Abdullah Syafi’ie berhasil melebarkan sayap
dakwahnya dengan membeli sebidang tanah yang kemudian diwakafkan dan
dijadikan masjid dengan nama Masjid al Barkah. Sejak itulah Masjid al
Barkah semakin dikenal karena keramaian jama’ah dan kepiawaian KH
Abdullah Syafi’ie memikat hati jamaah dalam berbagai ceramahnya.
Tahun
1954, Kyai Abdullah Syafii membeli lagi tanah di depan Masjid al Barkah
yang diniatkan untuk pengembangan Sekolah Menengah atau Tsanawiyah yang
kemudian resmi dinamakan Perguruan As-Syafi’iyyah. Di dalamnya ada
lembaga pesantren untuk putra dan putri dan madrasah yang berjenjang
mulai Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah dan Aliyah. Dari hari ke hari, Perguruan
As-Syafiiyah semakin berkembang.
Tahun 1967 Sang Kyai membuat terobosan besar dalam dakwah dengan mendirikan stasiun Radio As Syafi’iyah. Ini bisa dibilang baru dalam dunia dakwah. Salah satu tujuannya, membentengi umat dari kekuatan komunis yang saat itu telah mendirikan UR (Universitas Rakyat) dan memiliki pengaruh kuat. KH Abdullah Syafi’ie memanfaatkan media radio tersebut untuk membentengi umat dari paham komunis, perjudian, dan berbagai masalah yang dapat menghancurkan keimanan umat Islam.
Keunikan Kyai Abdullah
Syafi’ie, ia bukan hanya mendirikan lembaga. Tapi, ia mengajar langsung
murid dan santrinya. Sesekali, Kyai masuk ke kelas-kelas, sekolah atau
masjid dengan memberi dorongan dan keteladanan. Seorang alumni
As-Syafi’iyah berbagi pengalaman, KH Abdullah Syafi’ie setidaknya datang
ke sekolah tiap dua bulan. Dalam setiap kunjungannya, ia menulis
kalimat bahasa Arab di papan tulis. Lalu dimintanya salah satu murid
untuk mengi’rab (menganalisis secara tata bahasa Arab) kalimat tersebut. Jika murid tersebut berhasil mengi’rab dengan
benar, maka beliau langsung mendo’akannya. Jika gagal, ia memberi
peringatan keras dan mendorong murid belajar lebih giat. Dalam kegiatan
pengajian pun, Kyai Abdullah Syafi’ie sangat memperhatikan bacaan para
muridnya saat membaca kitab kuning, sampai titik koma, dan tata
bahasanya.
Pesan-pesan
KH Abdullah Syafi’ie
dikenal sebagai ulama yang sangat membenci kebodohan. Ia senantiasa
mengobarkan semangat para murid dan santri agar bersungguh-sungguh dalam
menuntut ilmu. Sebuah kata-kata hikmah dari Imam as-Syafii rahimahullah, yang sering ia kutip untuk para santrinya: “".
Dijelaskan
oleh Sang Kyai: “Bercita-citalah seperti cita-cita para raja,
terbanglah jiwamu setinggi-tingginya untuk mencapai cita-cita mulia.
Pandanglah kehinaan diri sebagai kekufuran. Kehinaan diri karena tidak
berilmu adalah suatu bentuk kekufuran, karena merupakan pengingkaran
terhadap anugerah Allah yang memberi kedudukan kepada manusia sebagai
makhluk ciptaan Allah yang sangat mulia, sebagaimana tersebut pula dalam
hikmah yang lain kadal faqru an yakuna kufra (kefakiran itu dekat kepada kekafiran.”
Dalam sebuah khutbah Jumat, Kyai juga menyampaikan pesan: “Sejak
dari Nabi Ibrahim bahkan dari rasul-rasul sebelumnya terpeliharalah nur
ilahi atau cahaya Tuhan yang diwujudkan menjadi agama untuk menuntun
hidup manusia menuju keselamatan dan kesejahteraan. Dipelihara dan
dijaga dibela dan dipertahankan dengan segala daya dan kesanggupan
dengan segala macam pengorbanan oleh pengikut-pengikut dan para pembela
rasul-rasul dari segala macam kerusakan dan permainan hawa nafsu dan
bujukan setan. Dari sejak itu sampai kepada masa kita sekarang ini dan
seterusnya sampai kepada anak cucu kita turun temurun hingga hari
kiamat. Kalau berhasil atau sekurang-kurangnya kuat hamba-hamba dan
budak-budak hawa nafsu dan pengikut-pengikut iblis itu dalam usahanya
menggelapkan nur Ilahi, agama Allah yang suci dan membuat wiswas dan
keragu-raguan maka dunia ini banyaklah terdapat manusia yang hidup dalam
kegelapan dan kesesatan tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh untuk
menuju keselamatan dan kesejahteraan.”
Penggalan khutbah
yang ditulis KH Abdullah Syafi’ie itu meunjukkan bahwa Sang Kyai Betawi
ini merupakan sosok yang sangat gigih dalam membela Islam dari berbagai
pemikiran sesat yang berkembang pada masanya. Karena itulah, ia tidak
pernah mengenal lelah dalam mengajar dan berjuang membela Islam,
khususnya di wilayah Ibu Kota Jakarta.
Saat Gubernur Ali Sadikin melemparkan wacana agar “umat Islam yang meninggal dunia tidak perlu dikubur melainkan cukup dibakar saja karena tanah di Jakarta sudah mahal”, maka KH Abdullah Syafi’ie menjadi salah satu penentang terdepan.
Ia juga menolak legalisasi perzinahan dan perjudian yang ketika itu sedang diusahakan. Ia bukan hanya menentang melalui ceramah. Sang Kyai juga mendirikan Majlis Muzakarah Ulama dengan merangkul ulama lainnya seperti KH Abdussalam Djaelani, KH Abdullah Musa dan lain sebagainya. Dalam majlis itulah dibahas berbagai masalah umat dan bangsa, seperti soal perjudian, P4, kuburan muslim, dan sebagainya. Saat ada wacana akan ada batasan azan subuh, Kyai juga muncul sebagai penentang keras kebijakan tersebut.
Saat pemerintah berencana melegalisasi Aliran Kepercayaan, KH Abdullah Syafi’ie juga termasuk orang yang keras menentang. Bahkan ia sampai mengumpulkan 1000 ulama yang memiliki integritas untuk berbaiat menolak kebijakan pemerintah tersebut. Kabarnya, itulah yang antara lain membuat Pak Harto mundur dari gagasannya.
Melalui radio yang dimiliknya, ia terus mengajak umat untuk melawan kebijakan yang menyudutkan umat Islam. Sikapnya berpedoman pada sabda Nabi: “Qul al Haq wa lau kana murran” (katakanlah kebenaran, meskipun itu pahit). Kyai Abdullah Syafi’ie tidak segan dan gentar untuk berseberangan sikap dengan penguasa saat itu.
Namun sikap tegas tersebut, diimbangi dengan dakwah yang persuasif yang pada akhirnya meluluhkan sikap keras Ali Sadikin dan membuatnya berubah pikiran di hadapan KH Abdullah Syafi’ie. Karena itu, bukan aneh, jika KH Abdullah Syafi’ie memang seorang ulama yang sangat disegani oleh umat dan penguasa.
Kini, umat merindukan hadirnya ulama-ulama yang berilmu tinggi dan bermental singa seperti ini. (***)